Postingan

Menampilkan postingan dari Januari, 2026

Aku Baik-Baik Saja Karena Aku Belajar Berbohong

 Aku belajar menjadi baik-baik saja. Bukan karena hidupku membaik, tapi karena aku lelah menjelaskan rasa sakit. Aku tersenyum di waktu yang tepat, berkata “nggak apa-apa” dengan intonasi yang meyakinkan, dan memotong ceritaku sebelum masuk ke bagian yang jujur. Kamu yang mengajarkanku itu. Kamu selalu bilang aku terlalu jujur pada perasaan sendiri. Terlalu mentah. Terlalu ingin dimengerti. Maka aku mulai memperbaiki diriku—bukan dengan mencintai diri sendiri, tapi dengan mengeditnya. Aku menghapus kalimat yang terlalu sedih. Aku menahan tangis di jam-jam sibuk. Aku belajar terlihat kuat tanpa pernah benar-benar kuat. Orang-orang menyebutnya perkembangan. Aku menyebutnya penyamaran. Suatu malam aku berdiri lama di depan cermin. Bukan untuk memastikan aku baik-baik saja, tapi untuk memastikan aku terlihat seperti orang yang sudah pulih. Aku berbisik pada pantulan itu, “Kamu sudah sembuh, kan?” Pantulan itu mengangguk. Dan di situlah aku sadar sesuatu yang mengerikan: ak...

Aku Menjadi Versi Terbaikmu

 Aku berubah karena kamu. Itu kalimat yang selalu kuucapkan pada orang-orang, dengan nada bangga, seolah perubahan itu hadiah. Aku mulai membaca buku, berhenti begadang, menata hidup, bahkan belajar mencintai diriku sendiri—atau setidaknya itu yang terlihat. Kamu pernah berkata, “Aku suka kamu yang berusaha.” Dan sejak saat itu, aku tak pernah berhenti berusaha. Setiap target kucapai, setiap luka kusembuhkan, selalu ada bayanganmu di belakangnya. Aku membayangkan kamu tersenyum, mengangguk pelan, lalu berkata aku cukup. Tapi kamu tak pernah kembali. Aku tetap melangkah. Lebih disiplin. Lebih kuat. Lebih tenang. Orang-orang menyebutku inspiratif. Mereka bilang aku bertumbuh. Padahal aku hanya takut menjadi diriku yang dulu—yang tidak kamu pilih. Suatu malam aku membaca ulang pesan lamamu: “Aku pergi bukan karena kamu kurang. Aku pergi karena kamu hidup untuk menyenangkanku.” Kalimat itu terasa asing. Seolah bukan ditulis untukku. Aku menutup ponsel dan menatap pantulan...

Aku Menjadi Lebih Baik Setelah Kehilanganmu

 Aku mencintaimu ketika aku masih berantakan. Kau datang bukan untuk menyelamatkanku, tapi untuk menunjukkan betapa rusaknya aku. Kau selalu berkata pelan, tanpa marah, tanpa memaksa, “Kamu pantas lebih baik, tapi bukan dariku.” Kalimat itu menusuk lebih dalam daripada perpisahan. Aku mulai berubah setelah kau pergi. Bangun pagi, berlari sebelum matahari muncul, membaca buku-buku yang dulu kau sarankan. Aku menulis ulang hidupku sedikit demi sedikit, seolah kau masih menonton dari kejauhan. Setiap pencapaianku selalu terasa setengah. Karena aku ingin kau melihatnya. Aku ingin kau berkata aku cukup. Suatu malam aku berdiri di depan cermin, menatap wajah yang kini lebih tenang, lebih rapi, lebih kuat. Aku tersenyum kecil dan berbisik, “Lihat? Aku bisa.” Tapi cermin tak menjawab. Aku menyadari sesuatu yang terlambat: kau tak pernah pergi. Kau masih ada di setiap keputusanku, setiap rasa bersalah, setiap standar yang kupasang terlalu tinggi. Aku membangun diriku bukan untuk h...

Jam yang Berhenti di Pukul 03.17

 Jam dinding di kamar Raka berhenti di pukul 03.17 sejak ibunya meninggal. Awalnya Raka mengira itu cuma kebetulan. Baterai habis, mesin tua, atau sekadar rusak. Tapi anehnya, setiap kali jam itu diganti—entah baterai baru atau bahkan jam lain—semuanya selalu berhenti di waktu yang sama. 03.17. Itu adalah jam ketika rumah sakit meneleponnya dua tahun lalu. Sejak saat itu, Raka sering terbangun di waktu yang sama. Nafasnya sesak, dadanya berat, seolah ada sesuatu yang ingin keluar tapi tertahan. Ia duduk di tepi ranjang, menatap jam yang membisu, lalu bertanya pada dirinya sendiri: Kenapa waktu seolah menolak berjalan? Raka adalah penulis, tapi sudah lama ia tak menulis apa pun. Kata-kata terasa kosong, seperti jam itu—diam, tak berdetak. Suatu malam, hujan turun tanpa suara petir. Raka kembali terbangun di pukul 03.17. Kali ini berbeda. Jam di dinding berdetak. Satu kali. Raka terpaku. Ia menahan napas. Dua kali. Jam itu bergerak. Jarum detik mulai berputar pelan, lalu ...

melawan tanpa terlihat

BAB 1 — KEBEBASAN YANG TIDAK PERNAH ADA Kamu tidak pernah benar-benar bebas. Kalimat ini mungkin terasa kasar, bahkan menyebalkan. Tapi rasa tidak nyaman itu penting, karena kebebasan—seperti yang kamu pahami hari ini—bukanlah sesuatu yang alami. Ia adalah konsep yang dirancang, dibentuk, lalu ditanamkan agar kamu berhenti bertanya. Kamu hidup di dunia yang memuja pilihan. Semakin banyak pilihan, katanya semakin bebas. Namun anehnya, semakin banyak pilihan yang tersedia, semakin banyak orang merasa bingung, cemas, dan kehilangan arah. Kamu memilih pekerjaan, gaya hidup, pasangan, bahkan cara berpikir—namun tetap merasa terjebak. Ini bukan kegagalan pribadimu. Ini adalah hasil dari sistem yang bekerja dengan sangat halus. Masalahnya bukan karena kamu kurang pintar. Masalahnya karena kamu tidak pernah benar-benar memilih dari awal . Pilihan Bukan Kebebasan Sejak kecil kamu diajari bahwa memilih berarti berkuasa. Dua opsi di hadapanmu dianggap sebagai bukti kebebasan. Padahal pili...