Aku Menjadi Lebih Baik Setelah Kehilanganmu
Aku mencintaimu ketika aku masih berantakan.
Kau datang bukan untuk menyelamatkanku, tapi untuk menunjukkan betapa rusaknya aku. Kau selalu berkata pelan, tanpa marah, tanpa memaksa, “Kamu pantas lebih baik, tapi bukan dariku.”
Kalimat itu menusuk lebih dalam daripada perpisahan.
Aku mulai berubah setelah kau pergi. Bangun pagi, berlari sebelum matahari muncul, membaca buku-buku yang dulu kau sarankan. Aku menulis ulang hidupku sedikit demi sedikit, seolah kau masih menonton dari kejauhan.
Setiap pencapaianku selalu terasa setengah. Karena aku ingin kau melihatnya.
Aku ingin kau berkata aku cukup.
Suatu malam aku berdiri di depan cermin, menatap wajah yang kini lebih tenang, lebih rapi, lebih kuat. Aku tersenyum kecil dan berbisik, “Lihat? Aku bisa.”
Tapi cermin tak menjawab.
Aku menyadari sesuatu yang terlambat:
kau tak pernah pergi.
Kau masih ada di setiap keputusanku, setiap rasa bersalah, setiap standar yang kupasang terlalu tinggi. Aku membangun diriku bukan untuk hidup—tapi untuk menebus sesuatu yang tak pernah kau minta.
Aku membuka laci meja dan menemukan surat yang kutulis sendiri setahun lalu, dengan tulisan tangan yang berantakan:
“Jika kau membaca ini, berarti dia benar.
Kau berubah bukan karena cinta,
tapi karena takut ditinggalkan.”
Tanganku gemetar.
Cinta itu tidak membangunkanku.
Ia mengurungku dalam versi diri yang selalu merasa kurang.
Dan saat itu aku mengerti:
aku tidak kehilanganmu.
Aku kehilangan diriku sendiri,
lalu berpura-pura menyebutnya self-improvement.
Komentar
Posting Komentar