Aku Baik-Baik Saja Karena Aku Belajar Berbohong
Aku belajar menjadi baik-baik saja. Bukan karena hidupku membaik, tapi karena aku lelah menjelaskan rasa sakit. Aku tersenyum di waktu yang tepat, berkata “nggak apa-apa” dengan intonasi yang meyakinkan, dan memotong ceritaku sebelum masuk ke bagian yang jujur. Kamu yang mengajarkanku itu. Kamu selalu bilang aku terlalu jujur pada perasaan sendiri. Terlalu mentah. Terlalu ingin dimengerti. Maka aku mulai memperbaiki diriku—bukan dengan mencintai diri sendiri, tapi dengan mengeditnya. Aku menghapus kalimat yang terlalu sedih. Aku menahan tangis di jam-jam sibuk. Aku belajar terlihat kuat tanpa pernah benar-benar kuat. Orang-orang menyebutnya perkembangan. Aku menyebutnya penyamaran. Suatu malam aku berdiri lama di depan cermin. Bukan untuk memastikan aku baik-baik saja, tapi untuk memastikan aku terlihat seperti orang yang sudah pulih. Aku berbisik pada pantulan itu, “Kamu sudah sembuh, kan?” Pantulan itu mengangguk. Dan di situlah aku sadar sesuatu yang mengerikan: ak...