Aku Menjadi Versi Terbaikmu

 Aku berubah karena kamu.

Itu kalimat yang selalu kuucapkan pada orang-orang, dengan nada bangga, seolah perubahan itu hadiah. Aku mulai membaca buku, berhenti begadang, menata hidup, bahkan belajar mencintai diriku sendiri—atau setidaknya itu yang terlihat.

Kamu pernah berkata, “Aku suka kamu yang berusaha.”
Dan sejak saat itu, aku tak pernah berhenti berusaha.

Setiap target kucapai, setiap luka kusembuhkan, selalu ada bayanganmu di belakangnya. Aku membayangkan kamu tersenyum, mengangguk pelan, lalu berkata aku cukup.

Tapi kamu tak pernah kembali.

Aku tetap melangkah. Lebih disiplin. Lebih kuat. Lebih tenang. Orang-orang menyebutku inspiratif. Mereka bilang aku bertumbuh.

Padahal aku hanya takut menjadi diriku yang dulu—yang tidak kamu pilih.

Suatu malam aku membaca ulang pesan lamamu:

“Aku pergi bukan karena kamu kurang.
Aku pergi karena kamu hidup untuk menyenangkanku.”

Kalimat itu terasa asing. Seolah bukan ditulis untukku.

Aku menutup ponsel dan menatap pantulan wajahku di jendela. Rapi. Tenang. Hampir sempurna.

Lalu aku sadar sesuatu yang mengerikan:
aku memang berhasil menjadi versi yang kamu inginkan.

Masalahnya—
aku tak pernah bertanya apakah versi itu milikku.

Aku tidak patah karena kamu pergi.
Aku patah karena aku bertahan terlalu lama
menjadi seseorang yang bukan aku.

Dan saat aku akhirnya berani berhenti berusaha…
aku tidak tahu siapa aku tanpa kamu.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kebahagian

IHKLAS

Sebuah Ikrar bagi Mereka yang Menderita