Jam yang Berhenti di Pukul 03.17

 Jam dinding di kamar Raka berhenti di pukul 03.17 sejak ibunya meninggal.

Awalnya Raka mengira itu cuma kebetulan. Baterai habis, mesin tua, atau sekadar rusak. Tapi anehnya, setiap kali jam itu diganti—entah baterai baru atau bahkan jam lain—semuanya selalu berhenti di waktu yang sama.

03.17.

Itu adalah jam ketika rumah sakit meneleponnya dua tahun lalu.

Sejak saat itu, Raka sering terbangun di waktu yang sama. Nafasnya sesak, dadanya berat, seolah ada sesuatu yang ingin keluar tapi tertahan. Ia duduk di tepi ranjang, menatap jam yang membisu, lalu bertanya pada dirinya sendiri: Kenapa waktu seolah menolak berjalan?

Raka adalah penulis, tapi sudah lama ia tak menulis apa pun. Kata-kata terasa kosong, seperti jam itu—diam, tak berdetak.

Suatu malam, hujan turun tanpa suara petir. Raka kembali terbangun di pukul 03.17. Kali ini berbeda. Jam di dinding berdetak.

Satu kali.

Raka terpaku. Ia menahan napas.

Dua kali.

Jam itu bergerak.

Jarum detik mulai berputar pelan, lalu normal. Jarum menit ikut berjalan. Waktu hidup kembali.

Tanpa sadar, air mata Raka jatuh. Bukan karena takut, tapi karena rasa lega yang belum pernah ia rasakan sejak kehilangan itu.

Ia duduk di depan laptop dan membuka dokumen kosong.

Kata pertama muncul.

Lalu kalimat.

Lalu cerita.

Pagi harinya, jam di kamar Raka menunjukkan waktu normal. 06.42. Matahari masuk lewat jendela, hangat dan tenang.

Raka menatap jam itu lama, lalu tersenyum kecil.

Ia akhirnya mengerti:
waktu tidak pernah benar-benar berhenti—
kitalah yang kadang menolak berjalan bersamanya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

IHKLAS

Kebahagian

Sebuah Ikrar bagi Mereka yang Menderita